Blocking People in My Mind
Bulan sembilan lalu saya memblock seseorang. Memblock dari no contact wa. Lebih penting lagi memblok dari pikiran.
Tampaknya berhasil. Saya tidak memikirkan orangnya lagi. Saya seperti habis pikiran positif, prasangka baik. Saya memperlakukan diri saya saja yang baik, bahwa saya tidak ingin marah berlarut. jadi akibat marah ini di-block saja media komunikasi yang dapat menghubungkan kami.
Karena marahnya sederhana. Wa saya tidak di tanggapi. Telpon juga tidak pernah di angkat. Hal itu membuat prasangka ke diri. Sebegitu tidak pentingnya lagi diri ini untuk ditanggapi dalam suatu komunikasi.
Prasangka saya pada kehidupan orang itu
Sungguh repotnyaa kehidupannya saat ini yang sedang pulang ke tanah air. Padahal ingin ikut berbahagia dengan kepulanganya. Yang terjadi hingga kepulangan orangnya yang menganggap saya keluarga tidak mengabari lagi kepergianya.
Saya mengambil tindakan yah block saja dari semua sumber komunikasi. Hasilnya cukup baik. Saya lupa urusan dalam hidupnya dan keluarganya.
Hingfa tadi siang saya mendapati DM nya di instagram yah saya block lagi. Marah ini muncul. Masih ada disana. Tidak muncul kata maaf. Karena bukan urusan maaf lagi. Baik saya atau pun orangnya saling meminta.
Saya pikir pun bukan memutus silaturahmi. Saya merasa tidak pantas saja dibiarkan seperti mengemis hubungan yang sebenarnya untuk silaturahmi. Saya bukan lautan yang bisa menampung semua alasan apa yang terjadi dihidupnya sehingga saya tidak dapat ditoleh sekedar menyapa. Saya menghubungi juga atas dasar silaturahmi yang Allah perintahkan.
Ada kadar dalam hidup. Ada Batas yang terlampaui. Seperti garis finish. Dari pada saya berprasangka tidak enak. Jadi sudah saya blok dalam pikiran. Dan saya tidak menantikan cerita akhirnya. Saya block juga karena Allah SWT. Yang tidak mau hambanya menjadi makhluk berprasangka buruk.