Pendekar Harum

Sore pukul empat.

Dia melihat sekeliling ruangan tidak terlalu terang bersuhu lembab. Dihadapannya ada kloset jongkok diantara dinding ruangan dan bak mandi ukuran satu kali satu tinggi dua meter. Bak mandi itu wajib dia isi sore ini, setiap hari. 

"Arany isilah bak mandi, nanti kesorean" teriakan ibunya mengingatkan tugas sore harian Arany.

Seorang anak berusia 9 tahun membantu keluarga memenuhi kebutuhan air utuk digunakan pada sore, malam dan pagi hari. Berember - ember air yang akan diangkut. Jarak antara rumah dan sumur sekitar 200 meter. Yang membuat bagi Arany sengsara adalah jalan setapak antara pohon -pohon kebun karet disamping rumahnya berupa gundukan tanah yang membuat tanjakan. Semakin membakar dada Arany ketika mengangkutnya. 

"kapan tugas ini tidak akan aku kerjakan lagi, kapan ayah akan membeli mesin air?" Sempat Arany menanyakan hal tersebut.
"sabar saat ini uangnya untuk uang sekolah Abang mu Ran" 

Arany sangat malas mengerjakannya mengangkut air. Capek, membuat malas belajar pada malam hari, tidak mau menyentuh PR sekolah, seadanya Arany mengerjakan. 

Kadang ada Abang Arany yang juga ikut membantunya sehingga tidak terlalu lama bak air terisi. Ketika Arany mengangkut sendiri pekerjaan itu bisa sampai pukul setengah 6. 

Dalam sebulan ini ada yang membuat Arany semangat menyelesaikan mengangkut air dengan cepat. Di televisi ada acara baru  sangat seru yang dimulai pukul 5 sore. Serial TV Pendekar Harum Kisah seorang pendekar detektif yang lucu, tampan, pintar dan cerdik. 

Arany rela memulai mengerjakan tugas rumahnya dimulai pikul 3.30. Siang belum selesai, senja belum masuk. 
Matahari masi bersinar menyengat. Arany melawan matahari menuju sumur rawa tempat sumber airnya. Untung matahari dia punggungi ketika membawa pulang air  Dia menggenggam pegangan kuning ember 5 liter berwarna hitam sebelah kanan dan dirijen orange 5 liter sebelah kiri. Tangan kanan kirinya sudah kapalan, kadang mengelopak. Perlu 15 kali angkut air untuk memenuhi bak mandinya. 

Hari itu  Arany pulang kerumah cukup siang dari sekolah ada tugas kelompok. Waktu sudah pukul 03.30 Arany masih cukup letih dan dilanda malas. Dirumah ibu sedang tidak ada, ayah belum pulang bekwerja. Abang Arany belum pulang les tambahan. Arany tertidur sampai pukul setengah 5. Dia dibangunkan ibunya baru saja pulang. 

Sore itu Arany bergegas mencari sahabat sorenya, ember hitam dan dirijen orange. Arany ingat lanjutan cerita pendekar harum hari ini akan sangat seru. Arany sempatkan menyetel televisi siaran sang burung. Mumpung belum dimulai Arany berlari kecil membawa ember dan dirigen menuju sumur rawa. Mengambil air dan mempercepat langkah, mengeuatkan gengaman. "Pendekar harum nan tampan menunggunya". Kata Arany dalam hati. 
"Semangat sekali kamu sore ini Ran" kata ibu - ibu tetangganya yang juga mengangkat air dengan extrem, dengan bak karet hitam ukuran 60 cm diatas kepalanya. Diantara bak dan kepalanya ada semacam kain digulung pipih menahan bak tersebut. 
"Otak ku bisa tambah lemot kalo caraku mengangkut air seperti itu" jawab Arany ketika diajarkan  mengangkut air dengan cara seperti tetangganya. 

Setelah air masuk kedalam bak Arany meliaht televisi. Menonton Chu Liuxiang dan teman gendutnya yang suka berbaju hitam. Ketika iklan Arany akan kembali menuju sumur.  Berkali - kali Arany mengankut air sore itu sesuai hitunganya bak dan gentong merah besar dikamar  mandi akan terisi penuh. Arany merasakan air belum naik - naik permukaan bak.  

Dirumah ternyata sedang ada uwak dan anaknya yang baru saja mandi. Ibunya baru bilang, mereka akan menginap. 
"Kamu isi air cukup banyak ya Arany" Arany meniyakan namun mata dan telinganya lengket pada serial yang diangkat dari Novel negeri tirai bambu itu. Episode sore itu cukup penting dan seru. Arany tambah malas akan mengangkut air lagi lagi dan lagi, tapi senang terbuai tontonanya.

Menjelang Maghrib, serial sudah selesai. Air dalam bak sudah terisi.  Tinggal dalam gentong yang akan berjumlah 5 kali angkut ember dan dirigen. Energy Arany sudah terkuras. Kedua telapak tangannya perih. Dia duduk dilantai teras semen menghadap jalan masuk rumahnya yang dipagari tanaman rimbun si pucuk merah. Arany merasa marah, malas menyelesaikan tugas sorenya.  

Senja itu matahari hampir tenggelam Ayahnya datang dengan Abangya bersama. Mereka turun dari motor RX king tua membawa sebuah kotak kardus cukup besar dipegang oleh abanynya.  Dilihatnya Arany sangat keletihan. 
"Sudah Ran kamu mandi dan bantu ibu kita sedang ada tamu dirumah". 
"Iya ayah. Balas Arany sambil mencium punggung tangan ayah dan abangya. 
"Sini Rean biar Abang sama ayah yang angkut air"

Arany sudah beres mandi dan dan segera membantu ibu menyiapkan makan malam untuk tamu dan keluarga. Arany ke kamar mandi dan air dalam bak dan gentong sudah terisi. Ada sebuah objek baru dalam kamar mandi yang sudah terang. Sebuah selang panjang ditas gentong terpasang keluar dari pintu kaamr mandi. 

Lampu kamar mandi sudah diganti. Terlihat jelas  selang berwarna hijau. Arany menyusuri asal selang. Seperti perkirannya ada sebuah mesin air yang terapasang disumur belakang rumahnya lengkap penyaring air. Karena sumur belakang rumahnya tidak terlalu bagus sehingga harua disaring.  Arany merasa senang dan lega. Akhirnya Ayah sudah bisa membeli mesin air. 
 Arany segera mencari abag dan ayahnya. Mereka berdua sedang duduk santai didepan televisi bersam uwak dan anaknya.
 
"Pantas saja Abang semangat mau angkut air, biasanya banyak alasan" 
"Sama saja Ran, Abang harus angkut mesin tiap mau isi air. Karena bahaya kalo ditinggal nanti ada maling"
"Jadi sekarang gentian angkat mesin air, aku mana kuat"

Semua orang tertawa. "Ya enggak Ran,  sekarang jadi tugas abangnya isi air karena bisa mengangkat dan menghidupkan mesin air"

"Aku mau juga tahu cara menyalakan mesin air, Yah" 

"Anak wanita mending bantu ibu" kata Ayah
"Ya deh tapi setelah selesai Pendekar Harum" kata Arany sambil melirik abangnya yang juga suka menonton Pendekar Harum.

#30DWCJilid40 #day3 #squad3






 




Postingan populer dari blog ini

Aku di Panggil Ibu

Genesis (Start) Chapter I