Wisuda
"Wisuda itu perjuangan, saya belum berjuang" kata Arany dalam hati. Dia melihat tiga rekan satu angkatan kuliahnya sudah ada yang sedang melakukan prosesi pemindahan tali toga ke kiri dan ke kanan. Wajah gembira terpancaran di seluruh wisuda dan wisudawan. Ada rasa iri menyelinap di dada Arany. Dia mencoba sumringah kepada temannya yang di wisuda hari itu.
Arany masih di tahap mencari keberanian menghadap bimbingan skripsi Bab pertama meminta ACC untuk melanjutkan pada Bab ke dua. Arany takut banyak coretan kesalahan penulisan dan komentar pertanyaan dari pembimbingnya. Kesalahan yang berulang. Bab I dan 2 memakan waktu 6 bulan.
Ada semangat setiap malam Arany bergadang mengerjakan lagi. Ketika sudah selesai diesok hari langkah tangan menghubungi sang dosen muncul sejuta alasan untuk tidak melakukan. Bayangan dan rasa ketakutan hasil bimbingan sudah memenuhi kepalanya. Penolakan adalah hal yang Arany hindari.
"Mau kapan selesai skripsinya" kata sang Ayah yang sering membawa perrtanyaan ketika menelpon Arany. "Sabar Yah nanti Arany selesaikan" Pertanyaan itu yang menjadi bola kuat penghantam hati Arany sehingga berani melaju menemui dosen untuk bimbingan. Kadang Arany kembali lagi mundur setelah pertanyaan itu hilang.
Wisuda gelombang kedua tahun itu diselenggaralam lagi. Kali ini sahabt - sahabat dekatnya beberapa juga sudah melaksanakan wisuda. Yang membuat Arany merasa iri dan dikhianati Arany tidak tahu kapan mereka bimbingan, penelitan dan menyelesaikan skripsi. Arany hanya mendapat kabar mereka sudah daftar, sidang sudah selesai. Wisuda pun dilangsungkan. Skripsi Arany masi blm selesai.
Arany duduk disebelah salah seorang ibu teman kuliahnya yang sedang mengikuti acara wisuda pelepasan jurusan. Ibu itu terlihat sangat bahagia. Dia mengajak bicara Arany yang baru pertama kali juga mereka bertemu.
"Kamu kapan akan menyusul wisuda nak"
"Semoga secepatnya Bu selamat yah, menjadi ibu seorang sarjana"
"Segera selesaikan nak, menyelesaikan kuliah seperti membayar hutan, selesaikan hutangmu kepada orang tua, pasti mereka akan sangat bahagia dan bangga, apa lagi ibumu"
"Iya Bu segera saya selesaikan" Kalimat membuat ibu yang paling bahagia adalah kalimat penghantam hati Arany. Dia lupa selama ini ada ibu yang tidak dia ingat untuk dibahagiakan ditengah hancurnya hati ibunya yang telah berpisah dengan Ayahnya. Apalagi yang bisa membuat ibunya bahagia jika tidak dengan menjadi sarjana. Ketakutannya tidak seberapa dengan sakit hati yang dialami ibunya. Hanya karena sang ibu tidak menanyakan kapan wisuda bukan berarti ibu tidak tahu dan ni peduli. Arany akan berjuang untuk wisuda. Muncul tekad dalam hati Arany
Arany menyelesaikan Ba4 penelitian dan Bab 5. Perjuangan sakit gigi dan bimbingan. kehabisan uang untuk foto copy dan daftar sidang. Makan mie rebus tiga hari karena hampir kehabisan uang. Mengalami sakit diare. Hanya teman satu kostnya yang mengetahui.
Karena takut akan menjadi Ada abang datang menjenguk ke kosaan mengetahui kabar Arany yang sedan sakit dan akan menghadapi ujian sidang.
"Ini tambahan uang untuk biaya sidang" abang ada seadanya, obatnya dimakan kalo sudah pulih segera lanjutkan sidangnya" kalo sempat Abang akan melihat". Abang Arany sempat membawa Arany ke dokter. Arany menjadi terharu ditengahkesibukan kerja, abangnya masih sempat menjenguk.
"Terimakasih Bang, doakan Arany lancar sidangnya"
"Kamu hubungi ibu dan ayah jangan biarkan mereka khawatir, apalagi ibu"
"Iya nanti Arany telpon"
Arany berjuang dalam diam kembali mengerjakan skripsi. Arany mempraktekaan semua yang sedang mengerjakan skripsi. Membarin kejutan hasil. Tanpa pernah terlihat dikampus, atau bimbinvan, Tanpa ada angin, berita kabar beberapa teman daftar sidang. Ada yang kilat tiga bulan, enam bulan tidak bertemu malah akhirnya wisuda. Menjadi pertanyaan Arany bagaimana perjuangan mereka.
Pejuangan terberat Arany adalah takut bimbingan, takut ditolak hasil pengerjaan skripsinya. Ketakutan terkahir Arany ketika menghadapi sidang menunggu namanya dipanggil masuk ruangan ujian. Seakan ada balon dalam hatinya yang berkembang besar menunggu pecah. Hari sidang harus tetap dihadapi, itu pintu terakhir sebelum wisuda. Tekad melihat wajah ibunya bahagia adalah perisainya dihari sidng, apapun hasil sidang harus berhasil. Tidak dibiarkanya pikiran gagal sidang.
Arany melihat wajah bahagia ibunya mendampinginnya wisuda. Abangnya juga ikut menemani. Sang ayah tidak ada. Arany tidak terlalu memikirkan. Hutangnya sudah tunai untuk menjadi seorang sarjana. Ada rasa kebahagian dan kelegaan dalam hati Arany.
Momen wisuda adalah perjuangan menuju bahagia, untuk orang tersayang terutama diri sendiri yang menghadapi rintangan.
#30DWCJilid40 #day4 #squa3